Kaki Panjang dan Jago "Leften"

Beberapa hari yang lalu kawanku menegurku lewat facebook massenger,
kawanku: "bgmn kabar kawan? kaki panjang sekali..
aku : hahaha.. baik-baik saja kawan, ko kabar?
kawanku: ah sa juga baik-baik kawan..

istilah "kaki panjang" bukan seperti istilah "tangan panjang" yang negatif, "kaki panjang" bisa berarti negatif, bisa juga positif, kaki panjang bisa diartikan "bermain jauh dari rumah" atau "suka jalan-jalan" atau bisa dibilang suka keluyuran dan jarang dirumah atau merantau jauh dari rumah.

Percaya atau tidak sebenarnya aku lebih senang dirumah atau bisa disebut anak rumahan. Waktuku lebih senang aku habiskan di rumah dengan membantu mama menjaga Kios atau menonton TV atau menjaga kios sambil menonton TV. Punya Kios sangat menyenangkan, aku senang mengatur dan membersihkan barang-barang di Kios, selain itu kegiatan "Menjaga Kios" (melayani, menjadi kasir dan juga menjaga barang-barang dari pencuri) menurutku adalah kegiatan yang menyenangkan dan menghasilkan uang. Mungkin jika aku tidak mendapat beasiswa dan kuliah jauh dari rumah, aku sudah menjadi pengusaha toko.

Bekerja Memberi Buah

... jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.. (Fil 1:22)..

Akhir segala sesuatu itu lebih baik dari sebuah awal. Perjalanan menuju Akhir adalah perjalanan yang penuh misteri. Ujung jalan selalu tersembunyi. 

Dalam perjalanan hidupku, aku mengalami beberapa peristiwa sedih yang mendalam, yaitu ditinggal pergi selamanya oleh orang-orang yang aku kasihi. Kepergian dua kakakku Hendra dan Yuni yang begitu cepat dan kepergian Bapak Desember 2012 lalu. 

Kepergian kepala keluarga dan beberapa anggota keluarga kami membuat aku terkadang merasa keluarga kami tidak lagi utuh, tidak lagi komplit, ada yang kurang. Aku kemudian menyadari bahwa hidup itu tidak ada yang sempurna, selalu saja ada kekurangan. Tetapi dalam kekuranganpun dan didalam ketidak-utuhan, aku harus belajar untuk selalu bersyukur, bersyukur dalam segala hal, bersyukur di dalam segala sesuatu.

Keluargaku, keluarga yang hidup penuh perjuangan. Memang hidup itu adalah perjuangan, perjuangan hingga akhirnya nanti. Bapak dan kedua saudaraku telah menyelesaikan perjuangan mereka. Kami yang masih hidup di dunia ini, masih berjuang bagi hidup kami, berjuang menyelesaikan pekerjaaan yang diberikan Tuhan kepada kami. Seperti kutipan surat Paulus diatas.. Jika aku harus hidup.., itu berarti bagiku bekerja memberi buah. 

Ki-ka : Yohan Samuel, Mama, Rudolf Surya (digendong mama), Yunita (alm.), Fernandes Jaya (menangis), Bapak (alm.), Demesius Hendra (alm.)(digendong alm. Bapak) (anggota keluarga kami lainnya yg sewaktu foto ini diambil belum lahir ke dunia (adik saya), Bayu Christian (alm.), Bayu Billy))

Ausländer schreibt etwas auf Deutch 1

April 2014 in Köln, mit meiner "Noken" spazierengegangen

Für einen Ausländer, mir ist sehr gut deutsch zu sprechen. Das hat einen Deutsche zu mir gesagt. Ja, ich glaube, ich sehr gut deutsch sprechen kann und auch gut verstehen kann, wenn jemand auf deutch spricht. Aber für einigen Fall, besonders wenn die Junge Leute unterhalten, verstehe ich nicht ganz gut weil die manchmal sehr schnell sprechen und manchmal auch mit sehr viele Redensart, die ich nicht verstehen kann.

Es ist für mich schwierig, auf Deutsch zu schreiben. Ich schreibe sehr gern, aber auf deutsch.. das ist für mich schwierig und villeicht gefällt mir nicht auf deutsch zu schreiben. Ich versuche etwas einbischen auf deutsch zu schreiben weil ich das machen muss. An der Uni gibt es viele Module, die ich mache, erfordern die Abschlussprüfung mit Essay. also muss ich Essay früher lernen zu schreiben.

Es ist eigentlich nicht schwer, etwas auf deutsch zu schreiben wenn man egal ohne thema schreibt wie ich jetzt mache. Ich muss noch viel deutsch lernen. der DSH 2 Zertifikat, der ich gekriegt habe, ist schon genug um eine Uni zu betreten aber ich glaube nicht gut genug um alle die Vorlesungen zu verstehen. Deutsch muss man lange lernen. Man kann deutsch sparchige Zertifikat mit etwas "Trick" kriegen aber man kann nicht so einfach deutsch beherrschen. Dann beginne ich jetzt auf deutsch zu schreiben und ich versuche Schreiben auf Deutsch zu lieben. wie mein Lehrer früher zu mir gesagt habe, "wenn du etwas beherrschen möchtest, dann musst du das zuerst lieben".

Persiapan Kuliah Di Jerman Dengan Hemat

Mau kuliah di jerman tapi tidak tau mau mulai dari mana? saya juga pernah mengalami hal yang sama. Dari pada bingung dan ikut bermacam-macam seminar "study abroad" dan menghabiskan banyak uang, beberapa pengalaman saya ini mudah-mudahan dapat bermanfaat dan membantu: 

1. Mendaftar (Bahasa Jerman penting, english is ok).
Jika anda menguasai bahasi asing seperti bahasa inggris atau lebih baik lagi bahasa jerman atau setidaknya anda sedikit mengerti salah satu dari kedua bahasa tersebut, anda sudah dapat mendaftar kuliah di berbagai universitas di jerman. Sebagian besar universitas di jerman menerapkan pendaftaran secara online dan sangat mudah, pendaftaran juga bisa dilakukan dalam bahasa inggris atau jerman. sebagai contoh adalah pendaftaran online di universitas tempat saya belajar di uni-muenster.

sambil mendaftar tentu anda bisa menggunakan kamus/google translate jika ada pertanyaan yang tidak anda mengerti. Selain itu, pendaftaran anda bisa di-pending dan "save" dulu jika ada dokumen yang belum tersedia dan bisa anda lanjutkan nanti.

Deutschland: Chapter II

Jika cerita hidup tertulis dalam book of life, maka perjalanan saya besok ke Jerman bisa diberi judul Deutschland Chapter II. Dalam Bab "Deutschland" Chapter I yang dimulai 16 Februari 2009, banyak hal yang terjadi yang kemudian membentuk kedewasaan saya sebagai seorang mahasiswa dan juga sebagai seorang manusia. Perjalanan saya yang kedua kalinya untuk kembali menuntut ilmu di jerman besok adalah jawaban Tuhan atas doa saya saat saya memutuskan untuk pulang ke Indonesia beberapa tahun yang lalu.

Besok saya berangkat dengan status yang berbeda, saya adalah seorang suami dan bapak dari seorang anak. Saya bukan lagi seorang mahasiswa yang tidak harus memikirkan orang lain selain dirinya sendiri. Kini kehidupan saya bukan lagi kehidupan saya sendiri tetapi kehidupan sebuah keluarga. Sebagai seorang Bapak saya punya tanggung jawab terhadap istri dan anak yang saya tinggal untuk sementara. Saya berkomitmen untuk bekerja keras demi mereka. Demi hari nanti, hidup kita nanti.

Saya bukanlah orang yang menyukai perjalanan panjang. Perjalanan besok akan dimulai dari Bandung kemudian Jakarta- Doha - Frankfurt - Muenster. Jika dibandingkan dengan penerbangan pertama ke Jerman yaitu dari Jogjakarta -Jakarta-Doha-Frankfurt - Saarbruecken - Bremen dan perjalanan lainnya yang lebih panjang yaitu Jayapura-Makassar-Jakarta-Dubai-Hamburg-Bremen, perjalanan besok boleh dibilang tidak seberapa.

Kiranya Tuhan menyertai perjalanan saya besok dan senantiasa memberkati apa yang saya kerjakan di episode Deutschland Chapter II yang akan dimulai 15 Maret 2014 ketika saya tiba di Frankfurt nanti.

Sopir Angkot & Anak Sekolah

Kontras atau sangat berbeda jauh dengan apa yang pernah saya alami waktu jaman sekolah dulu. Itulah yang melintas dipikiran saya ketika melihat sopir angkot di bandung memperebutkan seorang penumpang, apalagi ia hanya seorang anak sekolah. "Ayo neng.. kosong.. ayo... langsung jalan" rayu supir angkot yang ditanggapi dengan muka kecut & tidak perduli anak sekolah itu.

Pada masa sekolah saya dulu, terutama saat duduk dibangku SD & SMP (pada rentang tahun 1994-2003), sangat sulit untuk mendapatkan transportasi ke sekolah apalagi transportasi pulang dari sekolah. Saya tinggal di argapura & sekolah saya di hamadi angkatan laut. Antara rumah dan sekolah, angkot yang saya tumpangi harus melewati pasar di hamadi. Selain di pagi hari banyak ibu-ibu yang akan pergi ke pasar, anak sekolah biasanya membayar angkot lebih murah dibanding masyarakat umum.

Dilema Beng-Beng, Coca-cola & Satria Baja Hitam

Taxi di kota Jayapura
Ketika mengitari kota bandung menggunakan angkot, ada seorang anak kecil menggunakan seragam sekolah duduk di depan di samping supir angkot itu, ia meminum es sirup sambil bercakap-cakap dengan supir, dari percakapan mereka terlihat bahwa supir angkot itu adalah bapaknya. Aku tersenyum melihatnya....

Sore itu sehabis mandi, aku sedang duduk-duduk diruang tamu sambil menonton TV. Sore itu sekitar jam 5 sore, acara favoritku tayang jam 7 malam waktu Papua, Satria Baja Hitam, aku tidak sabar menunggu kelanjutan episode sebelumnya,

Tuhan, BersamaMu Aku Bisa Menanggungnya

Karena hidup banyak rasa....
Kalimat sebuah iklan di tv ini, menggambarkan bagaimana hidup memiliki banyak kejadian yang tidak selalu menyenangkan, tetapi juga tidak selalu menyedihkan. Bagiku, jika hidup sudah berjalan sampai disini dan aku masih bisa menjalaninya lagi, aku sangat bersyukur. 

Acara Talk Show yang dibawakan pesulap terkenal dalam sesi "question of life" menayangkan bagaimana pembawa acara tersebut (yang nama belakangnya sulit aku eja) menanyakan pertanyaan kepada bintang tamunya: Dulu atau sekarang?? kebanyakan dari tamu-tamu menjawab "Sekarang", tentu dengan berbagai alasan, atau mereka hanya menjawab demikian untuk menjaga citra. tapi bagiku, dalam situasi apapun kondisiku saat ini, aku pasti menjawab sekarang. Siapa yang mau menghidupi hidup di masa lalu? atau tidakkah kita bersyukur sudah sampai disaat ini?

Peluang dan Kesiapan

Keberhasilan datang ketika peluang bertemu dengan persiapan yang baik. Setiap orang akan memperoleh peluang/kesempatan, entah itu sekarang, besok atau nanti. Peluang pasti akan datang. Yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan diri untuk menyambut peluang itu. Peluang yang datang seperti pencuri.

Aku seperti orang yang hidup mengikuti arus, entah apa itu benar atau tidak, akupun tidak mengetahuinya. Hidupku berjalan sesuai dengan keputusan-keputusan yang kubuat, dan aku selalu memanfaatkan peluang yang diberikan kepadaku walau terkadang hidup berjalan tidak seperti yang aku kehendaki.

Bapak Yang Baik


Malam itu bapak membangunkanku lagi, ia mengantarku ke toilet untuk buang air kecil, waktu kecil aku sering ngompol, kadang aku tahan rasa buang air kecilku hanya karena aku takut ke toilet. Maklum toilet rumah kami letaknya di belakang dan agak gelap karena hanya dihiasi lampu kecil yang redup. Setiap pagi aku bangun, pasti bapak sudah bangun duluan. Pagi itu mungkin ia sedang membaca buku-buku rohani atau ia hanya makan Pinang sambil memandangi jalan.

Bapak, ia jarang ngobrol, ia juga jarang bertanya kondisi kami anak-anaknya, itu sudah sifatnya. Kalau bertanya kondisi kami mungkin cuma sepatah dua kata. Apalagi berbicara lewat telepon, ia jarang menelpon, akupun sebenarnya tidak terlalu gemar berbicara di telepon, mama yang sering menelpon dan berbicara panjang lebar, kalau bapak, ia jarang berbicara di telepon, jangankan di telepon, kami memang jarang bercakap-cakap.

Komputerku, Kawanku!

Di waktu senggang hampir sebagian besar waktuku aku habiskan didepan komputer, kebiasaan ini dimulai sejak aku merantau ke jakarta, salatiga, jogja hingga ke jerman. Komputer pertamaku adalah sewaktu aku duduk dikelas dua SMA, aku membeli sendiri CPU dari uang hadiah setelah aku mengikuti OSN 2005 di jakarta dan mendapat medali. Uang itu kemudian aku titipkan ke guruku yang mengerti banyak tentang komputer, waktu itu tujuan aku membeli CPU adalah untuk menonton video dan bermain game.

Sebuah Paradox (Part.2)

Setelah di jerman akupun memulai aktivitas akademikku yang sempat aku tinggalkan. Dimulai dari mengembalikan beberapa buku yang aku pinjam ke perpustakan, aku harus membayar denda hingga hampir satu juta rupiah dari sekitar 5 buku yang tidak aku kembalikan lebih dari dua bulan. Kemudian aku harus mempersiapkan diriku untuk menghadapi ujian beberapa hari lagi, waktu libur yang seharusnya aku gunakan untuk mempersiapkan diri sebelum ujian, tidak efektif aku gunakan karena penyakit yang masih aku derita. Aku tetap berusaha, ujian tetap kujalani walau aku tahu nilaiku pasti tidak begitu bagus.

Sebuah Paradox (part. 1)

Kehidupan memiliki musimnya sendiri; perubahan dari ketidak dewasaan menjadi dewasa, pergumulan menjadi penyerahan, pergolakan menjadi kedamaian, percaya menjadi pengertian, dan menabur menjadi menuai. Kehidupan bukanlah suatu yang linear, dimana kita pindah dari satu tahap ke tahap berikutnya. Hidup tidaklah seperti itu. Hidup lebih mirip lingkaran. Ada saatnya sepertinya kita harus kembali ke awal, bertobat lagi, mengulang kembali pelajaran yang telah kita abaikan dalam kehidupan rohani kita.

About Me

My photo
.. what a wonderful world .. ..life to happy, happy to life.. ..i love my family.. ..Jessy & Given..

Followers