Beberapa hari yang lalu kawanku menegurku lewat facebook massenger,
kawanku: "bgmn kabar kawan? kaki panjang sekali..
aku : hahaha.. baik-baik saja kawan, ko kabar?
kawanku: ah sa juga baik-baik kawan..

istilah "kaki panjang" bukan seperti istilah "tangan panjang" yang negatif, "kaki panjang" bisa berarti negatif, bisa juga positif, kaki panjang bisa diartikan "bermain jauh dari rumah" atau "suka jalan-jalan" atau bisa dibilang suka keluyuran dan jarang dirumah atau merantau jauh dari rumah.

Percaya atau tidak sebenarnya aku lebih senang dirumah atau bisa disebut anak rumahan. Waktuku lebih senang aku habiskan di rumah dengan membantu mama menjaga Kios atau menonton TV atau menjaga kios sambil menonton TV. Punya Kios sangat menyenangkan, aku senang mengatur dan membersihkan barang-barang di Kios, selain itu kegiatan "Menjaga Kios" (melayani, menjadi kasir dan juga menjaga barang-barang dari pencuri) menurutku adalah kegiatan yang menyenangkan dan menghasilkan uang. Mungkin jika aku tidak mendapat beasiswa dan kuliah jauh dari rumah, aku sudah menjadi pengusaha toko.

Walau aku "anak rumahan", aku juga suka diajak keluar, kawan-kawanku kadang mengajakku bermain di luar, dan jika sudah bermain diluar kami bisa bermain hingga sangat jauh dari rumah.

Di bangku SD dan SMP, kemampuan "Kaki Panjang" ku mulai ter-asah. Karena dahulu uang sakuku terbatas dan kendaraan umum di jayapura yang sangat tidak menyukai anak sekolah seperti yang pernah aku ceritakan di tulisanku sebelumnya, aku dan kawan-kawanku lebih sering menumpang kendaraan pick up atau truk atau yang kami sebut blakos (belakang kosong), istilah menumpang kami sebut "leften", leften berarti meminta kendaraan lain untuk berhenti dengan menjulurkan jari ke depan untuk maksud meminta tumpangan.

Konon kemampuan Leften orang berbeda-beda, jika intensitas keberhasilan Leften seseorang sangat besar maka orang tersebut bisa mendapat predikat "jago leften", predikat jago leften ini adalah predikat populer di kalangan anak sekolah dulu. Jika mendapat predikat "jago leften", niscaya pengikutmu akan banyak. Para pengikut ini semuanya adalah para Leften-ers yang berharap dapat ikut menumpang dari keajaiban si "Jago Leften" memberhentikan blakos. Leften/menumpang di Papua adalah hal yang populer di anak sekolah dan sudah ada sejak jaman waktu aku masih di bangku SD (sekitar tahun 98) atau bahkan sebelum aku lahir. Selain blakos, motor dan kendaraan lainnya juga bisa di "Leften", tapi tingkat keberhasilannya lebih kecil dibanding dengan me-leften blakos. Kini di jakarta juga ada komunitas menumpang yang sering keluar di TV namanya komunias nebeng-ers.

Selain "Jago Leften", kemampuan extrem kami dahulu adalah mengejar blakos atau truk. Biasanya hal ini kami lakukan jika sudah putus asa, karena tak satupun kendaraan yang mau mengangkut kami. Blakos dan Truk tersebut hanya dapat dikejar jika berjalan lambat, biasanya di jalan yang rusak atau jika jalan sedang macet atau sebagai alternatif kami biasanya nongkrong di perempatan (tidak ada lampu merahnya). Kemampuan "Jago Kejar" adalah kemampuan yang juga dibanggakan oleh para Leften-ers, dan kemampuan ini konon derajatnya lebih tinggi dari sekedar "Jago Leften".

Aku bukanlah "Jago Kejar" dan "Jago Leften", dahulu aku hanyalah "Leftener" yang menjadi pengikut setia kawanku si "Jago Leften dan Jago Kejar", namanya Alendo Reba, umurnya sekitar 2 tahun lebih tua dariku. Ia sekali tahan kelas sehingga kami jadi seangkatan. Alendo alias Aldo alias Aldox bagaikan Robin Hood bagi kami. Ia punya berbagai keahlian entah diperoleh dari mana, pengikutnya juga banyak, aku salah satunya. Bukan hanya jago leften dan jago kejar, ia jago berkelahi (sehingga jadi pelindung kami), jago memancing (biasanya kami memancing di hari minggu), jago mengumpulkan tembaga dan aluminium untuk dijual, dan juga jago "mengambil" barang-barang milik toko-toko besar/pabrik di sekitar kompleks kami. Satu yang tidak pernah aku lupakan, ia selalu membagi-bagikan hasil yang ia dapatkan dengan kami sebagai pengikutnya.

Sore itu, sebuah truk lewat di komplex kami hendak menuju gudang yang terletak juga tidak jauh dari komplex kami. Karena jalan menuju gudang sempit dan terjal, truk tersebut berjalan lambat. Kami sedang berkumpul dan bermain. Melihat truk yang lewat, mata kami semua tertuju ke karton-karton coca cola yang penuh di bak truk. Alendo kemudian berlari, bersembunyi di belakang truk sehingga tidak terlihat kaca spion, melompat ke atas truk bagai ninja, melempar beberapa karton ke kiri jalan yang di penuhi pohon-pohon pisang dengan perhitungan yang baik dan kemudian turun dari truk dengan keahlian ninja tanpa suara. Ketika suasana sudah sepi, barulah kami bersama-sama dengan alendo, mengumpulkan karton yang ia buang di sema-semak tadi. Sore itu kami pesta coca-cola, sisanya dijual di kios-kios kecil, hasilnya-pun ia bagi dengan terbuka. Padahal dialah yang paling bekerja keras.

Leften dan Kejar Blakos memiliki beberapa resiko, resiko terbesar adalah jatuh dari truk, tetapi puji Tuhan kami tidak pernah mengalaminya. Hanya sekali pernah terjadi pada kawanku Vicky Numberi. Sepulang sekolah kami menunggu angkot hingga sore, tak ada yang berhenti, kami Leften Truk dan Blakos tak ada yang berhenti juga. Saat itu ada truk yang lewat, kebetulan jalanan di dekat tempat kami menunggu sedikit berlubang dan berbatu, ia mulai berlari mengejar truk yang terpaksa berjalan rambat karena jalan berlubang dan berbatu itu, segera ia melompat, dua tangannya sudah memegang bak truk dan ia sudah menggantung pada bak truk itu. Aku hanya melihatnya. Perhitunganku, aku tidak dapat mencapai truk itu, berbeda jika blakos/pick up aku akan ikut mengejar. Tetapi Vicky sedang sial, jalanan berlubang membuat ban truk terperosok ke lobang, dan hentakan truk itu membuat tangan vicky tak mampu lagi menahan berat badannya yang terlempar kebawah, ia kemudian jatuh sangat keras dan meringis kesakitan, beruntung tak ada tulang yang patah. 

Kami kemudian memutuskan pulang berjalan kaki. Menunggu kendaraan hingga sore dan akhirnya harus jalan kaki adalah kesialan ganda, belum lagi ditambah bokong Vicky yang masih sakit saat jatuh tadi. Memang kami berdua bukan Jagonya Leften.

Resiko setelah mendapat tumpangan adalah bagaimana saat kami meminta kendaraan tersebut berhenti. Jika kendaraan yang kami tumpangi hasil Leften (kendaraan berhasil di-Leften /berhenti), maka biasanya supir akan berhenti jika kami meminta berhenti (dengan cara berteriak "depan om.." atau mengetuk bagian atas truk). Tetapi jika kendaraan hasil kejar, maka untuk berhenti kami harus menunggu blakos/truk tersebut berhenti di perempatan atau sedang berada dalam kemacetan. Biasanya supir tidak menghiraukan jika kami meminta berhenti, sehingga harus melompat pada waktu yang tepat. Hal ini juga butuh teknik-teknik tertentu. 

Lewat Leften, kami para Lefteners belajar untuk gotong royong, biasanya siapa yang lebih dahulu berhasil naik ke atas blakos/truk, akan menjulurkan tangannya kepada yang lain. Syaratnya kami harus menjaga irama lari sehingga tetap berada tepat dibelakang truk. Kawanku Hendrik Wacano, sangat kasihan. Badannya yang gemuk membuatnya sulit untuk berlari, yang lain sudah diatas truk, dan menjulurkan tangan kepadanya, "cepat hendrik.. lari.. cepat..", teriak kami. Ia berlari dan berlari namun truk itu semakin melaju, ia kemudian tertinggal di belakang sambil ngos-ngos-an dan memegang perutnya. 

Biasanya jika masih memungkinkan beberapa dari kami akan kembali melompat dari truk untuk kembali mencari tumpangan bersama. Pergi sama-sama, pulang sama-sama, itulah prinsip kami. Namun saat itu tidak memungkinkan lagi untuk melompat, truk sudah terlalu kencang. Saat itu harapan kami kepada Hendrik, mudah-mudahan ia pulang tanpa dipalak "anak besar" atau orang mabuk di perempatan hamadi gunung seperti yang pernah terjadi dengan kawanku Nelson.

Dua konsekuensi berjalan berkilo-kilo meter akibat "Leften Blakos" pernah saya alami. Yang pertama saat hari raya idul fitri, Kami berniat "bersilaturahmi (baca: mencari minuman kaleng)" di tempat-tempat strategis. Kami kemudian menumpang blakos menuju perumahan kodim di dok 5 bawah Jayapura. Saat hendak memasuki perumahan, kami sudah diusir duluan dan di bentak seorang penjaga. 

Kami yang semuanya masih anak-anak ketakutan dan berlari. Akibatnya kami meng-urungkan niat kami untuk bersilaturahmi. Kami kemudian mencoba kembali ke rumah dengan Leften sambil berjalan. Namun hari itu kami sedang sial, tak satupun Blakos yang berhasil kami berhentikan, akhirnya kami berjalan kaki dari Dok 5 sampai ke Argapura, mendaki gunung lewati lembah, seperti ninja hatori. Saya teringat kami pergi pagi sekitar jam 9 dan sampai di rumah sudah hampir gelap sekitar jam 6 sore.

Yang kedua adalah berjalan kaki dari lapangan bola di waena sampai di abepura sebelum akhirnya mendapat tumpangan ke argapura (dan beberapa turun di hamadi). Jika berjalan kaki dari stadion Mandala sampai Bank Papua (Kota Jayapura) sudah biasa kami lakukan setelah menyaksikan tim sepakbola Persipura Jayapura berlaga.

Mungkin pengalaman Kaki Panjangku semenjak SD dan SMP adalah cikal bakal "Kaki Panjang"ku hingga hari ini, semenjak ke Jakarta saat SMA dulu, aku sering berputar-putar dengan dan tersesat karena salah naik bus. Sama seperti saat aku bingung dengan jalur angkot di Bandung. Saat kuliah di Jogja, aku sudah meyusuri bagian barat pulau jawa, hingga bagian timur sampai menyeberang ke pulau ke bali dengan bus dan kereta. 

Di sumetera mungkin aku pernah ke batam, sulawesi sudah aku singgahi. Hingga saat ini aku sudah pernah ke China (Beijing, Guangzhou) dan Hongkong, di Afrika aku pernah ke Maroko dan bermalam di gurun Sahara bersama unta-unta. Walau sekarang aku di Jerman aku belum mengunjungi banyak negara di Eropa. Mungkin aku harus mengatur jadwal jalan-jalanku untuk mengunjungi beberapa kota di eropa. Kebetulan di bulan juni adikku yang mendapat beasiswa kuliah di amerika mau mengunjungiku di Jerman. 

seperti kata temanku dan mungkin ada benarnya. 
"Kawan ko memang kaki panjang!"

(di bawah adalah beberapa gambar-gambar narsis tukang kaki panjang, mungkin anda pernah mengunjungi tempat-tempat ini)













0 komentar:

Followers